4/04/2009

Asuransi, Pretensi dan Hipertensi

Saya mengenal asuransi sejak masih kecil karena ayah saya sering pegang polis sebuah asuransi tertua dalam negeri. Meski demikian, saya tidak kunjung mengetahui apa manfaat asuransi tersebut. Setelah memasuki perguruan tinggi, barulah pertama kali saya menjadi member sebuah produk asuransi karena setiap calon mahasiswa pada perguruan tinggi tersebut diharuskan membayar jumlah tertentu sebagai jaminan bagi saya pribadi selama masa pendidikan. Meski telah resmi menjadi member asuransi, tetapi pengetahuan saya tentang asuransi tetap tidak beranjak baik karena tidak kunjung mengetahui manfaat polis yang saya bayar tersebut. Hingga saya menyelesaikan pendidikan pada perguruan tinggi itupun saya tidak mengetahui keberadaan asuransi itu.
Setelah menjadi sarjana, ternyata tanpa disangka-sangka justru saya terjun dalam dunia asuransi dengan menjadi afiliasi sebuah perusahaan asuransi milik pemerintah. Awalnya, dikenalkan oleh seorang rekan satu almamater yang telah lebih dahulu bergabung pada perusahaan asuransi tersebut. Karena belum memiliki pekerjaan tetap maka saya pun mengajukan diri untuk bergabung dalam perusahaan asuransi itu dengan menjadi agen. Kemudian saya datang melamar secara resmi dan mendapatkan pelatihan singkat sebagai pemasar produk asuransi.
Setelah pelatihan, saya langsung diminta menerapkan pengetahuan pemasaran produk asuransi lewat praktek secara langsung. Bersama seorang rekan sepelatihan saya mengunjungi sebuah keluarga yang tidak jauh dari kantor asuransi. Dalam prakteknya, ternyata tidak mudah mengajak orang untuk bergabung. Bahkan saya sempat keringatan meyakinkan keluarga yang menjadi sasaran itu untuk membeli polis yang saya tawarkan.
Hari berikutnya kembali saya melakukan praktek pemasaran produk asuransi kepada tetangga yang relatif hidup berkecukupan. Dengan dibantu seorang family dekat, saya mendekati keluarga tersebut untuk diajak bergabung. Namun hasilnya tetap nihil sehingga saya mengevaluasi diri saya sebagai pemasar yang tidak sukses. Sejak itulah saya meninggalkan perusahaan asuransi tersebut karena saya merasa tidak berbakat jadi tenaga pemasar produk asuransi.Inilah episode pertama perkenalan saya tentang asuransi

Pada episode kedua, berkat pengetahuan baru yang saya dapatkan selama menjadi tenaga pemasar produk asuransi yang sangat bermanfaat, saya mengidam-idamkan pada suatu kelak saya akan menjadi member produk asuransi, bukan lagi sebagai tenaga pemasar produk asuransi, utamanya produk Asuransi AJB Bumiputera 1912 yang sudah terkenal dan tertua di Indonesia. Saya mendapat pengetahuan betapa pentingnya keberadaan asuransi dalam hidup kita namun baru sebagian kecil masyarakat Indonesia menjadi member asuransi. Produk Asuransi sangat beragam mulai asuransi diri (kesehatan, dll), asuransi rumah, asuransi kendaraan dan kecelakaan, dan segala aktifitas hidup kita.
Pada suatu kesempatan, saya mendaftarkan diri untuk suatu produk dana pensiun pada sebuah lembaga keuangan. Saya juga ingin menyandingkan dengan membeli produk asuransi sebagai proteksi disamping dana pensiun. Produk ini saya beli karena kesadaran bahwa ajal sewaktu-waktu bisa datang tanpa diundang sehingga dapat bermanfaat bagi anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai persyaratan produk asuransi tersebut adalah keharusan menyebutkan penyakit yang pernah atau sedang diderita dalam formulir pemesanan. Maka sayapun menuliskan secara jujur bahwa mengidap penyakit hipertensi. Penyakit ini juga diderita ayah saya hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada 1987 silam. Jadi mungkin penyakit hipertensi ini penyakit bawaan atau turunan karena kakak sayapun mengidap penyakit tersebut.
Namun selama berbulan-bulan menjadi member produk dana pension itu, pesanan produk asuransi yang saya pesan tidak kunjung disetujui. Saya sering menanyakan hal ini kepada costumer service lembaga keuangan dimana saya join, tetapi jawabannya sedang menunggu persetujuan. Hingga memasuki tahun kedua, jawaban dari pihak asuransi itu tak kunjung dating.
Dari pengalaman tersebut, sayapun berpretensi bahwa tidak semua perusahaan asuransi rela memproteksi calon member dengan produk yang ditawarkannya. Padahal esensi sebuah asuransi kesehatan untuk memproteksi setiap membernya dari risiko kesakitan yang sewaktu-waktu diderita setiap member asuransi. Karena setiap manusia pasti pernah menderita kesakitan dan berhubungan dengan rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap Komentar yang sopan sesuai etika berkomunikasi