Bisnis Dahsyat tanpa modal
readbud - get paid to read and rate articles
Tampilkan postingan dengan label JK for President. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JK for President. Tampilkan semua postingan

5/16/2009

JK Dizalimi SBY

Pada hari terakhir pendaftaran capres-cawapres (Sabtu, 16/05/09), ketiga pasangan capres-cawapres melakukan pendaftaran secara resmi. Pendaftar pertama adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) pada pagi hari, diikuti pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro) pada siang hari dan pada sore hari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY-Berbudi). Sebelumnya pasangan JK-Win dikabarkan akan mendaftar lebih dahulu pada Selasa (12/05), namun urung dilakukan. Pasangan JK-Win adalah pasangan capres-cawapres yang paling awal melakukan deklarasi sebagai kontestan pada pilpres Juli mendatang.
Tekad untuk maju sebagai capres bagi JK adalah sebuah hasil dari perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan SBY dan para dedengkot Partai Demokrat. JK yang sebelumnya masih menginginkan berduet dengan SBY pada periode kedua pemerintahannya, merasa dizalimi oleh SBY dengan menetapkan lima kriteria cawapres. Arogansi SBY terlihat nyata dalam penetapannya secara sepihak pada lima kriteria cawapres yang diinginkannya sehingga otomatis menggugurkan peluang JK. Elektibilitas SBY yang cukup tinggi melalui berbagai survey adalah penyebab utama sikap arogansi SBY dalam menentukan kriteria cawapres yang akan mendampinginya selama lima tahun ke depan.
Kelima kriteria cawapres yang pernah dikemukakan SBY di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat dihadapan wartawan istana (Minggu, 19/04/09) adalah memiliki integritas yang ditandai kepribadian dan moral yang tinggi, termasuk moral politik; memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menjalankan tugas negara; mempunyai loyalitas kepada kepala pemerintahan dan bebas dari konflik kepentingan; memiliki akseptabilitas dalam arti diterima dan lekat di hati rakyat; dan mampu meningkatkan kekokohan efektifitas koalisi pemerintahan.
Kriteria cawapres yang ditetapkan SBY berangkat dari pengalamannya selama periode lima tahun berjalan bersama JK. SBY merasa perlu menetapkan kriteria baru cawapresnya agar keinginan JK kembali berduet dengan SBY dibentengi secara halus. SBY bermaksud membangun pemerintahan yang solid melalui koalisi pemerintahannya tanpa JK namun SBY lupa bahwa fakta selama ini justru ada partai koalisinya yang tidak konsisten: membangun koalisi dengan SBY-Partai Demokrat namun menghajar kebijakan pemerintah terus-menerus di DPR atas nama koalisi kritis.
Penetapan kriteria cawapres bagi SBY sebagai antisipasi secara politik untuk menjalankan pemerintahannya ke depan tanpa gangguan dari dalam. Dalam sejarah hubungan presiden-wakil presiden, memang JK berhasil membangun suatu sejarah baru dengan menjalankan fungsi wapres secara dinamis, bukan fungsi sebagai “ban serep” yang dipraktekkan beberapa pemerintahan sebelumnya. Efek kedinamisan JK sebagai wapres sehingga seorang tokoh bangsa, Ahmad Syafii Maarif menobatkan JK sebagai “The Real President” selama lima tahun terakhir.
Sementara pilihan cawapres SBY pada Boediono tidaklah secara utuh memenuhi kelima kriteria yang dibuatnya sendiri. Keberadaan Boediono tidak mencerminkan kemampuan untuk memperkokoh koalisi efektifitas pemerintahan yang menjadi kriteria kelima. Boediono berasal dari kalangan professional yang tidak mendapat dukungan dari partai politik koalisi pendukung SBY seperti PPP, PKB, PAN dan PKS. Hal ini terlihat secara kasak mata betapa SBY tidak konsisten antara perkataan dan perbuatannya.
PKS adalah partai pendukung koalisi yang paling keras menolak Boediono karena memiliki agenda sendiri memajukan beberapa kadernya sebagai cawapres SBY seperti Hidayat Nurwahid dan Tifatul Sembiring. Hingga detik-detik akhir pendeklarasian pasangan SBY-Boediono di Sasana Budaya Ganesha, Bandung pada Jumat (15/05/09), PKS mendapatkan proporsi perhatian yang lebih dibanding partai pendukung koalisi lainnya. Meski pada akhirnya Tifatul Sembiring terlihat menghadiri deklarasi tersebut yang digelar mirip dengan penobatan Barack Obama-Joe Biden sebagai capres-cawapres pada konvensi Partai Demokrat AS.

Politik Penzaliman
Penzaliman terhadap JK diawali oleh pernyataan Wakil Ketua Partai Demokrat, Ahmad Mubarak yang menyepelekan Partai Golkar dengan melakukan prediksi perolehan suara Partai Golkar yang tidak lebih dari 2,5 persen pada bulan Februari 2009 lalu. Makna dibalik pernyataan Mubarok terkandung alamat menafikan JK yang notabene adalah Ketua Umum Partai Golkar untuk mendampingi kembali SBY sebagai Cawapres. Pernyataan Ahmad Mubarok membuat jagat dunia politik langsung bergejolak sehingga SBY sendiri harus turun tangan meredakan gejolak dengan menggelar konferensi pers untuk mendinginkan hubungan dengan Partai Golkar.
Pernyataan Ahmad Mubarok seolah menguak agenda tersembunyi Partai Demokrat untuk mendiskreditkan JK dan Partai Golkar. Setidaknya dengan mendiskreditkan Partai Golkar dapat mempengaruhi opini publik sehingga Partai Golkar kehilangan suaranya pada pemilu 2009. Dan ternyata target untuk menyingkirkan Partai Golkar sebagai pemenang pemilu 2004 lalu dinilai berhasil dengan tampilnya Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu 2009. Partai Demokrat yang belum berumur satu dekade itu berhasil mengungguli partai-partai yang telah berusia tua seperti Partai Golkar (dulu Golkar), PDI-P (dulu PDI) dan PPP.
Sasaran utama dibalik pernyataan Mubarok sebenarnya untuk menggerogoti dan mencuri massa Partai Golkar. Secara sosiologi politik, Partai Demokrat akan kesulitan menggaet suara dari massa partai berbasis agama. Massa partai berbasis nasionalis lainnya seperti PDI-P juga sulit untuk dicuri Partai Demokrat karena basis massa PDI-P yang berbasis wong cilik relatif konsisten meskipun jumlahnya tidak bertambah. Maka basis massa Partai Golkar-lah yang relatif mampu dicuri oleh Partai Demokrat, dan hasilnya seperti terlihat pada Pemilu Legislatif April 2009 lalu: Suara Partai Golkar menurun, sementara suara Partai Demokrat bertambah secara signifikan.
Grand Design Partai Demokrat untuk tampil sebagai pemenang pemilu telah menjadi target utama partai yang didirikan SBY tersebut untuk menyingkirkan Partai Golkar yang dipimpin JK. Namun grand design tersebut secara tidak sengaja dibeberkan Ahmad Mubarok ke hadapan publik secara prematur. Sebelumnya grand design tersebut pernah pula terlontar dari mulut Ketua Bappilu Partai Demokrat, Nur Amang beberapa tahun sebelumnya. Grand design tersebut semuanya bermuara pada sasaran menyingkirkan JK secara halus dalam periode kedua pemerintahan SBY. Bila Partai Golkar bisa dikalahkan dalam pemilu, maka Partai Demokratlah yang bisa meraup untung sebagai partai pemerintah. Partai Demokrat ingin menghindari rivalitas dengan Partai Golkar yang sama-sama ber-platform nasionalis dan sama-sama berlabel partai berkuasa selama lima tahun terakhir. Kenyataan ini seolah kacang lupa akan kulitnya karena selama periode duet SBY-JK, Partai Golkar-lah yang banyak membantu pemerintah, utamanya melalui dukungan parlemen.
Statement politik Ahmad Mubarak merupakan representasi apa yang ada dibenak para pengambil keputusan dari Partai Demokrat. Sejak pemilu 2004 lalu sebagai partai baru, Partai Demokrat lebih banyak membangun konstituen melalui media sehingga layak disebut sebagai partai media. Partai media yang dimaksudkan disini adalah partai politik yang berhasil dibesarkan oleh media massa melalui iklan-iklan politik, pemberitaan politik dan sensasi-sensasi politik yang sengaja dibuatnya. Partai Demokrat berkembang melalui iklan-iklan politik yang menampilkan keberhasilan SBY sebagai presiden, meski sebagian besar dikerjakan oleh JK dengan Partai Golkarnya. Iklan-iklan politik Partai Demokrat berhasil mempengaruhi opini publik sehingga berhasil mengambil alih kedudukan Partai Golkar sebagai pemenang pemilu 2009.
Hal ini berbeda dengan Partai Golkar yang merupakan partai berbasis massa. Namun massa yang dibangun oleh Partai Golkar telah berhasil diambil oleh Partai Demokrat melalui iklan-iklan politik yang gencar dan massif karena disokong oleh modal pembiayaan politik yang sangat besar sebagai partai berkuasa.
Berkaca pada sejarah pemilihan presiden pasca reformasi, partai politik pemenang pemilu tidak berkorelasi positif terhadap keterpilihan kadernya menjadi presiden. Bila pemenang pemilu 1999 adalah PDI-P, justru presidennya berasal dari PKB (Abdurrahman Wahid). Sedang pada pemilu 2004 pemenang pemilu adalah Partai Golkar, tetapi presidennya dari Partai Demokrat (Susilo Bambang Yudhoyono). Nah, pemilu 2009 pemenangnya adalah Partai Demokrat. Apakah presidennya tetap dari Partai Demokrat, atau justru berasal dari Partai Golkar atau PDI-P?

(Copyright @ Muslimin B. Putra. Penulis adalah Analis Politik dan Kebijakan Publik pada Pusat Kajian Kebijakan Nasional (Puskajaknas), Jakarta. Artikel ini dikirim ke Harian MEDIA INDONESIA, pada Minggu, 17 Mei 2009)

4/24/2009

Usulan Susunan Kabinet Bayangan Untuk JK

Sebagaimana kebiasaan pada negara-negara demokrasi dengan sistem pemilihan presiden langsung, seorang kandidat presiden dapat merilis Shadow Cabinet (Kabinet Bayangan) yang akan menjadi bahan preperensi bagi pemilih untuk memilih calon presiden tertentu.

Seiring perkembangan politik, diprediksi Partai Golkar berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura, maka susunan Kabinet Bayangan berdasarkan Koalisi Partai tersebut. Susunan kabinet bayangan didominasi politisi Partai Golkar, sisanya kalangan professional. Sedang partai koalisi (PPP, Gerindra dan Hanura) masing-masing mendapat jatah 1 kementerian.

Maka sebagai usulan untuk JK, berikut susunan Kabinet Bayangan yg dimaksud:

- Menko Kesra : Aburizal Bakrie (DPP Golkar)
- Menko Perekonomian : Fuad Bawazier (DPP Hanura)
- Menko Polkam : Kivlan Zein (DPP Gerindra)
- Menteri Dalam Negeri : Fadel Muhammad (Gub Prop Gorontalo)
- Menteri LUar Negeri : Yasril Ananta Baharuddin (Diplomat/DPP Golkar)
- Menteri Pertahanan : Yudi Krisnandi (DPP Golkar)
- Menteri Hukum & HAM : Anti Mattalatta (Tetap/DPP Golkar)
- Menteri Keuangan : Iqbal Latanro (Dirut Bank BTN)
- Menteri BUMN : Suaib Didu (sekarang Sekretaris Menteri BUMN)
- Menteri Perindustrian : Rahmat Gobel (Industriawan/Panasonic Gobel)
- Menteri Perdagangan : Aksa Mahmud (Bosowa Group/Wakil Ketua MPR/DPD)
- Menteri Pertanian : Djafar Hafsah (Mantan Dirjen Dept Pertanian/Demokrat)
- Menteri Kehutanan : Emmy Hafild (Mantan Dir Eks. WALHI)
- Menteri Kelautan : Prof. Dr. Laode Kaimuddin (Pakar Kelautan/Dewan Kelautan Indo)
- Menteri Energi : Erna Witoelar (Profesional/LSM)
- Menteri PU : Joko Kirmanto (Tetap)
- Menteri Perumahan Rakyat: Irgan Chairul Mahfuz (Sekjen PPP)
- Menteri Lingkungan Hidup: Ilyas Asaad (Sekarang Deputi Menteri KLH)
- Menteri Pemb. Perempuan: Prof. Musdah Mulia (Cendekiawan/Aktifis Perempuan)
- Menteri Agama : Prof Dr. Azyumardi Azra (Mantan Rektor IAIN Ciputat)
- Menteri Pemuda: Idrus Marham (Mantan Ketua Umum DPP KNPI)
- Menteri Kominfo: Marwah Daud Ibrahim (Pakar Komunikasi Intrnsionl/DPP Golkar)
- Menteri Kesehatan : Prof Dr. dr. Idrus Paturusi (Rektor UNHAS Mksr)
- Menteri Pendidikan Nas : Prof Dr. Mansyur Ramli (Sekarang Kabalitbang Depdiknas)
- Menteri Sosial : dr. Farid Suaib (Sekarang Dirjen Depkes)
- Menteri Koperasi : Dr. Harry Azhar Azis (DPP P Golkar)
- Menteri Pern Pemb/Bappenas : Sofyan Djalil (Sekarang Menteri BUMN)
- Menteri Sek Kab. : Priyo Budi Santoso (DPP Golkar)
- Menteri Sekneg : Syamsul Muarif (DPP Golkar)
- Menteri PAN : Prof. Drs. Sadly AD. MPA (Mantan Ketua STIA-LAN Jkt)
- Jaksa Agung : Prof Dr. Ahmad Ali (Mantan staf ahli Jaksa Agung era Bahar Lopa)

Demikian beberapa usulan untuk menduduki posisi dalam Kabinet Bayangan JK agar dapat menjadi pertimbangan bagi para pemilih untuk memilih JK sebagai Presiden RI pada Pilpres 8 Juli 2009 mendatang.